Puisi
Hanyalah Puan
Hujan datang bersama seteguk kenangan. Sepertinya hidup masih menarik untuk dilanjutkan. Ingin kuluapkan rasa di hati tapi aku ‘tak punya nyali. Sekedar do’a terpendam di gelap malam. Akan kupendam jika ini terlarang. Akulah puan yang menanggung rindu pantang. Bisakah kau hitung rintik hujan? Belacak ‘tak menentu. Turun tajam menghujam butala. Biar kusimpan rasa ini, melindungkan […]
Dari Tangan Kekarmu
Tangan kapalmu tanda keteguhan hatimu. Aroma peluh menyengat erat sampai sekarat. Banyaknya kerutan menggores hingga nanar menggelepar. Walau penuh berkesusahan pantang menengadah tangan. Walau payah kau ‘tak kan menyerah, merangkap darma buya. Harimu selalu panjang… Kau suguhkan kesempurnaan dari setiap detik ketidak sempurnaanmu. Mendabikkan dada diantara sekawanan lama, telah memiliki aku. Argh…aku rasa ‘tak berguna. […]
Creamy Coffee
Aku tak pernah bosan menatapmu. Seperti aku tak pernah bosan menyedukan kopi creamy kala hujan datang. Hujan yang menyuguhkan setiap detik kenangan. Hujan yang membawamu datang dan kembali pulang. Menatap hujan dan kopi di tangan itu bak menatapmu dengan penuh rindu, tak pernah membuatku jemu. Meskipun aku tak pandai bagaimana cara melukiskanmu. Kau selalu ada […]
Luapan Makna
Memoles diri dengan rendah hati Menutup netra bertualang rasa Semburat sendu penuh liku Arah mana yang kau tuju Koyak Tertutup kabut kelam masa silam ‘Tak ada yang mampu menggenggam Setelah semua menghilang Pelangi datang bersama gerombolan rintik hujan Menebar rona jingga senandung senja Senyuman mesra syarat makna Itukah cinta? Gejolak jiwa merdu meski tak utuh […]
Elegi Penjaja Hati
Larmi berubah menjadi putri Kupilih kau selangkang jalang Pemuas birahi liar Di atas ranjang berbau lendir Terjerembab dalam kawah hitam Derita episode masa silam Relakah masa depanmu menjadi kelam? Buram berketurunan Inilah Larmi masa kini Bukan sembarang putri Menghiasi diri dengan pesona duniawi Pengikut cinta kelam untuk menghidupi O, Tuan berwajah tampan Jangan biarkan berkepanjangan […]